ORANGUTAN SUITABILITY of KALIMANTAN BARAT

•Januari 1, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Kalbar Orangutan Suitabillity

Kondisi terakhir habitat yang sesuai untuk Orangutan Kalimantan Barat.

Source dan info lain mengenai peta ini hubungi darkono9@gmail.com; no503078@yahoo.com

Lebaran Adalah Iedul Fitri

•Oktober 27, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Yang ada dibenak kita tatkala hadir bulan Ramadhan adalah berkah, hikmah, anugerah, ampunan dan limpahan Rizki dari Alloh (Karena saya lahir di tataran Sunda, maka penulisan -Nya selalu menggunakan tulisan Alloh bukan Allah). Hingga saat ini, penulis sudah 12 tahun meninggalkan kampung halaman untuk berbagai hal aktifitas mulai dari sekolah menengah, kuliah strata 1 hingga sekarang punya kegiatan dibidang konservasi alam bersama Organisasi Non pemerintah di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Ketapang.

Masa 12 Tahun rasanya baru beberapa hari, masih basah di-benak pikiran saya tatkala mengenakan seragam biru putih, kemudian pulang naik angkutan umum bak terbuka (L 300). Pun dengan seragam putih abu-abu, bedanya dengan seragam ini, saya sudah harus jauh meninggalkan rumah dan harus indekos, karena memang sekolah menengah saat itu belum ada yang dekat dengan rumah. keterpaksaan ini yang akhirnya membawa penulis harus bersusah payah untuk terus bersekolah dengan uang kiriman seratus ribu rupiah perbulan, dipakai untuk iuran spp 14 ribu, uang sewa kamar 20 ribu sisanya untuk keperluan hidup, “Alhamdulillah masih dapat kiriman, karena kalo mau minta nambah lagi, dari mana? Orangtua hanya seorang pesuruh dan petani sawah” Gumam saya setiap bulan. Alhamdulillah dengan Rizki Alloh, akhirnya saya bisa menyelesaikan pendidikan menengah dan dapat meneruskan pendidikan ke Universitas Negeri di Luar jawa (walaupun di Luar Jawa yang penting Negeri dan Murah), tepatnya di Pontianak, Kalimantan Barat.

Menjadi Mahasiswa rupanya susah juga apalagi bagi saya yang merantau, harus bisa macem-macem (tentunya yang positif) supaya bisa “hidup”. Oh ya kiriman saya selagi kuliah sudah naik 100 persen dari sewaktu SMA, namun tidak bisa lama hanya berlangsung 5 Semester, yah karena memang keterbatsan yang menyebabkannya. Dengan Berkah Alloh SWT saya masih bisa bertahan tanpa harus melakukan hal-hal yang Haram.

Moment yang paling bermakna

Walaupun kondisi keluarga saya “sangat apa adanya”, namun selalu memiliki kebiasaan yang sagat unik tatkala Bulan Suci Ramadhan dan Lebaran, Nah kesempatan ini sangat bermakna bagi kami sekeluarga, dan rasanya tidak ada silaturahmi yang paling bermakna kecuali Hari Lebaran (Ibu + Bapa saya bilang “Bada”, Simplikasi dari Ba’da, maksudnya Ba’da Puasa), walaupun cuma dengan hidangan beberapa “toples” kue kering, ketupat yang nggak pernah ake opor ayam, tapi ayam goreng kering yang bisa awet hingga 1-2 hari, dengan kondisi ini pun kami sangat bersyukur dan semua tersenyum, “masih untuk ada makanan, orang lain mungkin ada yang belum bisa makan kayak kami” celoteh kami.

Untuk ikut menikmati suasana lebaran, bagi saya yang sedang jauh merantau memang menjadi “masalah”, namun pada akhirnya selalu menjadi “tidak masalah”. Kalau saya berencana untuk lebaran di kampung, walaupun saat itu belum punya ongkos, Alhamdulillah selalu diberikan jalan dan akhirnya bisa lebaran di kampung, dan ongkos Kapal selalu cukup untuk balik ke Pontianak lagi. Beberapa kali memang saya bisa berlebaran di kampung halaman, seringnya saya lebaran di Pontianak, Hal ini karena memang saya kadang malas di perjalanan, dan kondisi keuangan mahasiswa yang alakadarnya.

Dari waktu ke waktu hidup memang berubah, dan selama itu saya terus terpikirkan kenapa setiap saya berniat untuk Lebaran bersama orangtua, selalu diberikan Rizki oleh Alloh dan bisa berlebaran di Kampung. Begitupun sebaliknya kalau saya tidak berniat untuk Mudik Lebaran, kondisi keuangan saya sangat pas-pasan (Alloh Maha Segalanya).  Makna ini yang saya terus jadikan pedoman, Setiap ada niat pasti ada jalan, apalagi berniat bersilaturahmi dengan kedua oranguta.

Makna lain yang selalu mengilhami adalah tatkala silaturahmi telah dilakukan, selanjutnya anda seolah akan menemui kehidupan yang menyegarkan, semangat yang menggebu-gebu untuk menjalani hidup lebih baik. Orangtua adalah segalanya, spirit, Ibadah. Memang indah silaturahmi.

Alhamdulillah, Islam memberikan satu moment indah untuk melakukannya. Lebaran Idul Fitri. Dahsyat memang moment ini, Republik ini akan sibuk, Tolak ukur keberhasilan pemerintahan salah satunya adalah penyelenggaraan Mudik Lebaran.

Terimakasih Iedul Fitri. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Leuwi (Lubuk)

•Mei 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Cerita masa kecil memang tidak akan pernah lekang dimakan jaman, saya yang dilahirkan diantara batas propinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menurut cerita ”Sesepuh Kampung” Tetua Kampung, yang kian hari kian berkurang jumlah mereka, karena mereka tidak mampu melawan waktu yang terus berjalan. Bahwa kampungku dulu berasal dari peninggalan perang antara Kerajaan Padjadjaran dan Majapahit, dimana kemenangan diperoleh Padjdjaran, sebagian prajuritnya enggan pulang ke Jawa Barat dan mendirikan perkampungan.

Kampungku bernama Indrajaya, kampung di kaki Gunung Pojok Tiga, gunung yang hingga sekarang dianggap keramat dan berpenunggu, sehingga setiap orang yang memasukinya selalu ”kasarung”/ tersesat.

Saya hanya bisa mendengar ceritanya, dan belum pernah melakukan perjalanan ke sana. Di sekitar kampungku, wilayah hutannya telah dikelola oleh Perhutani dengan tanaman utama adalah Pinus.

Kampungku berada di ketinggian sekitar 700 – 1000 mdpl, diapit oleh dua aliran sungai besar yaitu sungai Ci Gunung dan Ci Gede. Saat itu usia ku baru sekitar 4 – 5 tahun, seperti biasanya kalau anak seusia saya lebih banyak bermain ala kampung, ”adu Gulutuk” adu taruhan karet gelang yang dilempar pake batu batre bekas, ”Sosodoran” bahasa modernnya Gobak Sodor, bahasa Inggrisnya Go Back Slow Dor (Kurang lebih), kalau sudah beranjak senja, banyak dihabiskan waktunya untuk mandi di ”Leuwi” (Lubuk).

Rasanya baru kemarin kejadian ini, nama ”leuwi” yang menjadi Favorit ialah ”Leuwi Nusa” disinilah saya bisa berenang, dan tidak mungkin lupa kalau Leuwi ini ikut memfasilitasi saya untuk bisa renang, suatu kebanggaan ”Saya bisa renang”.

Lama saya tinggalkan kampung halaman, perubahan yang sangat hebat yaitu leuwi ini, dahulu untuk bisa renang antara sisi yang bersebrangan sangat sulit sampai harus menggunakan batang pisang, setelah lancar berenang dan bisa nyelam, untuk mencapai dasar Leuwi yang berpasir begitu berat.

20 tahun saya meninggalkan kampung halaman kondisinya sangat jauh berbeda, tidak ada lagi namanya ”Leuwi Nusa” karena kedalamannya hanya sedalam betis orang dewasa, jangankan renang duduk saja, badan tidak bisa basah semua. Sedih memang melihatnya.

Melihat fenomena yang terjadi di sekitar kampungku, kesimpulan yang bisa diambil berdasarkan beberapa literatur yang saya baca, bahwa perubahan ini disebabkan karena sistem DAS (Daerah Aliran Sungai) yang tidak berfungsi secara alami, hutan di hulu sungai sudah mulai habis dan kebun pinusnya sudah dilakukan regenerasi (tebang habis dan mulai tanam). Fenomena ini menurut teman sepermainanku adalah wajar karena jaman semakin maju, kemajuan jaman ini yang merubah kondisi alamiah.

 

Semoga hal ini hanya terjadi pada Leuwi Nusa

Landuse Change | Sistem Informasi Geografis dan Penginderaan Jauh

•Februari 25, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

PENGGUNAAN PENGINDERAAN JAUH (PJ) DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) UNTUK MENGANALISA PERUBAHAN PENUTUPAN LAHAN DARI TAHUN 1999 HINGGA TAHUN 2002 DI DAERAH ALIRAN SUNGAI (DAS) SIDUK KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT

Oleh : Darkono, 2008

 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan luas dan tipe penutupan lahan dari tahun 1999 hingga tahun 2002 berdasarkan data Citra Landsat 7 ETM+ Tahun 1999 dan tahun 2002 pada DAS Siduk Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat. Sasaran yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah Peta Perubahan Luas dan Tipe Penutupan Lahan dari tahun 1999 hingga 2002. Penelitian ini dilaksanakan selama 1 Tahun, hingga penyusunan laporan hasil pada tahun 2006.

Luas total areal penelitian ini adalah 23.927,204 Ha, yaitu 12.951 Ha dalam wilayah Taman Nasional Gunung Palung, dan 10.976,204 Ha berada di luar Taman Nasional Gunung Palung. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai perubahan luas dan tipe penutupan lahan yang terdiri dari tipe areal Hutan dan Non Hutan.

Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif yang didukung dengan output dari SIG berupa Peta, Tabel, dan Grafik. Bahan penelitian berupa Citra Landsat7 ETM, yang memiliki skala resolusi 30 meter dengan luas liputan 185 Km2. Alat yang digunakan berupa perangkat lunak GIS menggunakan ArcView 3.3 dan ArcGIS 9.1, ERmapper 7.0 eksteksi pilihan (Optional Extension) ArcView menggunakan Image Analyst 3.1 dan Spatial Analyst 2.0. Dengan melakukan interpretasi visual dan digital yang dibantu dengan sistem kerja komputer dan perangkat lunak terpilih diperoleh peta-peta penutupan lahan, peta-peta tersebut menggunakan skala perbesaran 1:125.000, selanjutnya dilakukan pengecekan dilapangan mengenai tipe penutupan lahan baik Hutan dan Non Hutan berdasarkan dominansi pohon, kerapatan tajuk dan kerapatan  vegetasi hutan berdasarkan kriteria dari Depertemen Kehutanan.

Penutupan lahan di DAS Siduk, setelah dilakukan tumpangsusun antara peta penutupan lahan tahun 1999 dan tahun 2002. Dari tahun 1999 hingga tahun 2002 terjadi perubahan tipe dari Hutan ke non Hutan seluas 1.855,913 Ha dalam kurun waktu 4 tahun atau 463,978 Ha tiap tahunnya, dan terjadi pertumbuhan (suksesi alami) dari areal non Hutan menjadi Hutan sebesar 69,343 Ha atau 17,336 Ha tiap tahunnya.

Perubahan penutupan lahan dari tipe Hutan menjadi Non Hutan pada wilayah penelitian lebih besar terjadi di luar kawasan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) seluas 1.711,399 Ha atau 7,152 % dan di dalam Kawasan TNGP seluas 144,514 Ha selama kurun waktu empat tahun atau 0,603 %. Sedangkan dari tipe Non Hutan menjadi Hutan atau proses suksesi menunjukan perubahan positif pada kawasan TNGP seluas 53,848 Ha atau 0,225 % dibandingkan yang berada di luar kawasan seluas 15,495 Ha atau 0,064 % selama kurun waktu empat tahun.

Secara keseluruhan perubahan yang terjadi menunjukan perubahan negatif jika dilakukan perbandingan antara tingkat perubahan dari tipe Hutan menjadi Non Hutan seluas 1.855,913 Ha atau 7,756 % dengan perubahan dari tipe Non Hutan menjadi Hutan atau proses suksesi alami yang hanya seluas 69,343 Ha atau 0,289 % selama 4 tahun.

SEJARAH SINGKAT PETA DAN PEMBUATAN PETA

•Februari 23, 2008 • 1 Komentar

SEJARAH SINGKAT PETA DAN PEMBUATAN PETA

ES 551 — James S. Aber

Diterjemahkan atas ijin Penulis oleh Darkono, 2008.

A.  Apakah Peta itu ?

Suatu Peta merupakan penggambaran secara grafis atau bentuk skala (perbandingan) dari konsep mengenai bumi. Hal ini berarti bahwa peta merupakan alat untuk menyampaikan informasi mengenai ilmu bumi. Peta merupakan media yang universal untuk komunikasi sehingga dapat mudah dipahami dan dimengerti oleh setiap orang dengan mengabaikan budaya dan bahasa. Sebuah peta merupakan kumpulan gagasan, penggambaran tunggal, konsep-konsep mengenai ilmu bumi yang secara terus menerus mengalami perubahan (Merriam, 1996). Seperti apa peta dahulu diketahui, pengetahuan dasar mengenai peta sama seperti halnya filosofi. Yang mana sering terdapat perbedaan dengan pemetaan modern. Peta adalah alat yang digunakan oleh ilmuwan mencurahkan ide-ide dan menyampaikannya untuk generasi masa depan.

B.  Perkembangan Peta

1. Periode Awal

Pemetaan (Kartografi) merupakan ilmu dan seni dalam pembuatan peta. Pertama kali, peta dibuat oleh bangsa Babilonia berupa lempengan berbentuk tablet dari tanah liat sekitar 2300 S.M. Pemetaan dijaman Yunani Kuno sangat maju pesat. Pada saat itu, Konsep dari Aristoteles bahwa bumi berbentuk bola bundar telah dikenal oleh para ahli filsafat (sekitar 350 S.M.) dan mendapat kesepakatan dari semua ahli bumi. Pemetaan di  Yunani dan Roma mencapai kejayaannya oleh Ptolemaeus (Ptolemy, sekitar 85 – 165 M). Peta dunia yang dihasilkannya menggambarkan dunia lama dengan pembagian Garis Lintang (Latitude) sekitar 60° Lintang Utara (N) sampai dengan 30° Lintang Selatan (S). Dia menulis sebuah karya besar Guide to Geography (Geographike Hyphygesis). Dengan meninggalkan karangan yang dijadikan sebagai acuan ilmu Geografi yang mendunia sejak jaman kebangkitannya.

2. Periode Pertengahan

Sepanjang periode pertengahan, Peta-peta wilayah Eropa didominasi dengan cara pandang agama, yang dikenal dengan peta T-O. Pada bentuk beta seperti ini, Jerusalem dilukiskan di tengah-tengah sebelah timur yang diorientasikan menuju bagian atas peta. Penjelajahan Bangsa Viking pada abad 12 di Utara Atlantic, secara perlahan menyatukan pemahaman mengenai bumi. Sementara itu, ilmu kartografi terus berkembang dengan lebih praktis dan realistic di wilayah Arab, termasuk daerah Mediterania. Tentu saja, cara pembuatan peta masih dilukis dengan tangan, dimana penyebarannya masih sangat dibatasi. 

3. Periode Kejayaan

Penemuan alat cetak pembuat peta semakin banyak tersedia pada abad 15. Peta pada mulanya dicetak menggunakan papan kayu yang sudah diukir berupa peta. Percetakan dengan menggunakan lempeng tembaga yang diukir muncul pada abad 16 dan tetap menjadi standar pembuatan peta hingga teknik fotografis dikembangkan. Kemajuan utama dalam pembuatan peta mendapat perhatian sepanjang masa eksplorasi pada abad 15 dan 16. Para Pembuat peta mendapat jawaban dari Navigation Chart yang menyajikan garis pantai, pulau, sungai, pelabuhan dan simbol-simbol pelayaran. Termasuk garis-garis kompas dan paduan navigasi lainnya. Peta-peta ini membutuhkan biaya yang cukup tinggi, digunakan untuk tujuan militer dan diplomatic hanya dimiliki oleh pemerintah sebagai dokumen rahasia negara.   Pertama kali Peta Dunia disajikan secara utuh pada awal abad 16, meneruskan pelayaran dari Colombus dan yang lainnya untuk mencari dunia baru. Gerardus Mercator dari Flandes (Belgia) menjadi ahli pembuat peta terkenal pada pertengahan abad 16. Ia mengembangkan proyeksi silindris yang semakin luas digunakan untuk Navigation Chart dan Peta Global. Berdasarkan pada proyeksi ini ia menerbitkan sebuah peta pada tahun 1569. banyak proyeksi peta lain yang kemudian dikembangkan.

4. Periode Modern

Peta terus berkembang pada abad 17, 18 dan 19 secara lebih akurat dan nyata dengan menggunakan metode-metode yang ilmiah. Banyak Negara melakukan pemetaan sebagai program nasional. Meskipun demikian, sebagian belahan dunia banyak yang tidak diketahui walaupun menggunakan potret udara dengan melajutkan perjalanan Perang Dunia II. Pemetaan Modern berdasarkan pada kombinasi penginderaan jauh (Remote Sensing) dan pengecekan lapangan (Ground Observation).   Geographic Information Systems (GIS) muncul pada periode 1970-80-an. GIS menggeser paradigma pembuatan peta. Pemetaan secara tradisional (Berupa Kertas) menuju pemetaan yang menampilkan gambar dan database secara bersamaan dengan menggunakan Informasi  geografi. Pada GIS, database, analisa dan tampilan secara fisik dan konseptual dipisahkan dengan penanganan data geografinya. Sistem Informasi Geografis meliputi perangkat keras computer (Hardware), perangkat lunak (Software), data digital, Pengguna, sistem kerja, dan instansi pengumpul data, menyimpan, menganalisa dan menampilkan informasi georeferensi mengenai bumi (Nyerges 1993).

C. Apa itu Peta ?

Apakah peta merupakan penggambaran bumi secara sebenarnya? Bukan! Kesalahan pengukuran lapangan mempengaruhi ketelitian dan ketepatan. Citra satelit dan potret udara hanya menggambarkan bagian tertentu dari gelombang elektromagnetik tampak, karena pengaruh penghalang atmosfer dan alat pendeteksinya. Tidak semua peta dapat menggambarkan kondisi fisik, jasad hidup, dan bentuk kebudayaan pada wilayah yang lebih kecil. Suatu peta hanya dapat menyajikan beberapa informasi yang terpilih, yang ditampilkan umumnya secara simbol-simbol berdasarkan beberapa kriteria penggolongannya. Dengan cara ini, semua peta merupakan penafsiran, penilaian dan penyamarataan (Generalization) mengenai kondisi bumi yang sebenarnya. Semua peta dibuat menurut dasar asumsi tertentu, sebagai contoh datum permukaan laut, tidak selalu benar atau teruji. Sehingga peta apapun dan objek lain buatan manusia tanpa disadari terdapat penyimpangan, kesalahan penyajian, bias, atau samasekali salah dan menipu. Walaupun memiliki keterbasatan seperti ini, peta terbukti sangat bermanfaat dan dapat menyesuaikan hingga beberapa millennium pada peradaban manusia. Peta dengan segala bentuknya sangat penting bagi perkembangan masyarakat yang modern. 

References

  •  Aber. J. S. 2004. Brief History of Maps and Cartography, www.henry-davis.com/maps.html.
  • Merriam, D. F. 1996. Kansas 19th Century Geologic Maps. Kansas Academy of Science, Transactions 99:95-114.
  • Nyerges, T.L. 1993. Understanding the scope of GIS: Its Relationship to Environmental Modeling. In Goodchild, M.F., Parks, B.O. and Steyaert, L.T. (eds.), Environmental Modeling With GIS, p. 75-93. Oxford Univ. Press, 488 p.
  • Whitfield, P. 1994. The Image Of The World: 20 Centuries Of World Maps. Pomegranate Artbooks, San Francisco, 144 p.