Leuwi (Lubuk)

Cerita masa kecil memang tidak akan pernah lekang dimakan jaman, saya yang dilahirkan diantara batas propinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat yang menurut cerita ”Sesepuh Kampung” Tetua Kampung, yang kian hari kian berkurang jumlah mereka, karena mereka tidak mampu melawan waktu yang terus berjalan. Bahwa kampungku dulu berasal dari peninggalan perang antara Kerajaan Padjadjaran dan Majapahit, dimana kemenangan diperoleh Padjdjaran, sebagian prajuritnya enggan pulang ke Jawa Barat dan mendirikan perkampungan.

Kampungku bernama Indrajaya, kampung di kaki Gunung Pojok Tiga, gunung yang hingga sekarang dianggap keramat dan berpenunggu, sehingga setiap orang yang memasukinya selalu ”kasarung”/ tersesat.

Saya hanya bisa mendengar ceritanya, dan belum pernah melakukan perjalanan ke sana. Di sekitar kampungku, wilayah hutannya telah dikelola oleh Perhutani dengan tanaman utama adalah Pinus.

Kampungku berada di ketinggian sekitar 700 – 1000 mdpl, diapit oleh dua aliran sungai besar yaitu sungai Ci Gunung dan Ci Gede. Saat itu usia ku baru sekitar 4 – 5 tahun, seperti biasanya kalau anak seusia saya lebih banyak bermain ala kampung, ”adu Gulutuk” adu taruhan karet gelang yang dilempar pake batu batre bekas, ”Sosodoran” bahasa modernnya Gobak Sodor, bahasa Inggrisnya Go Back Slow Dor (Kurang lebih), kalau sudah beranjak senja, banyak dihabiskan waktunya untuk mandi di ”Leuwi” (Lubuk).

Rasanya baru kemarin kejadian ini, nama ”leuwi” yang menjadi Favorit ialah ”Leuwi Nusa” disinilah saya bisa berenang, dan tidak mungkin lupa kalau Leuwi ini ikut memfasilitasi saya untuk bisa renang, suatu kebanggaan ”Saya bisa renang”.

Lama saya tinggalkan kampung halaman, perubahan yang sangat hebat yaitu leuwi ini, dahulu untuk bisa renang antara sisi yang bersebrangan sangat sulit sampai harus menggunakan batang pisang, setelah lancar berenang dan bisa nyelam, untuk mencapai dasar Leuwi yang berpasir begitu berat.

20 tahun saya meninggalkan kampung halaman kondisinya sangat jauh berbeda, tidak ada lagi namanya ”Leuwi Nusa” karena kedalamannya hanya sedalam betis orang dewasa, jangankan renang duduk saja, badan tidak bisa basah semua. Sedih memang melihatnya.

Melihat fenomena yang terjadi di sekitar kampungku, kesimpulan yang bisa diambil berdasarkan beberapa literatur yang saya baca, bahwa perubahan ini disebabkan karena sistem DAS (Daerah Aliran Sungai) yang tidak berfungsi secara alami, hutan di hulu sungai sudah mulai habis dan kebun pinusnya sudah dilakukan regenerasi (tebang habis dan mulai tanam). Fenomena ini menurut teman sepermainanku adalah wajar karena jaman semakin maju, kemajuan jaman ini yang merubah kondisi alamiah.

 

Semoga hal ini hanya terjadi pada Leuwi Nusa

~ oleh darkono di/pada Mei 13, 2008.

Tinggalkan Balasan